<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" version="2.0">
<channel>
<title>Consilium 22</title>
<link>https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/1049</link>
<description/>
<pubDate>Fri, 24 Apr 2026 11:08:03 GMT</pubDate>
<dc:date>2026-04-24T11:08:03Z</dc:date>
<image>
<title>Consilium 22</title>
<url>http://https://repository.seabs.ac.id:8080/bitstream/id/e0553130-6e49-4cf9-9840-1635d569f415/</url>
<link>https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/1049</link>
</image>
<item>
<title>Front Matter</title>
<link>https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/1129</link>
<description>Front Matter
Redaksi
</description>
<pubDate>Fri, 01 Jan 2021 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/1129</guid>
<dc:date>2021-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Resensi Buku : Paul The Spirit and The People of God oleh Gordon Fee</title>
<link>https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/1060</link>
<description>Resensi Buku : Paul The Spirit and The People of God oleh Gordon Fee
Nicholas, Samuel
</description>
<pubDate>Fri, 01 Jan 2021 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/1060</guid>
<dc:date>2021-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Can We be Good Without God : Sebuah Pembelaan dari Teori Perintah Ilahi</title>
<link>https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/1059</link>
<description>Can We be Good Without God : Sebuah Pembelaan dari Teori Perintah Ilahi
Winarjo, Hendra
Menjadi orang yang baik dan bermoral sering kali adalah sebuah tuntutan sekaligus dambaan bagi banyak orang. Menariknya, menjadi orang baik dan bermoral tidak hanya didambakan oleh orang-orang yang menganut kepercayaan teistik seperti iman Kristen saja, melainkan juga oleh mereka yang menganut kepercayaan non-teistik seperti ateisme dan agnostisisme. Namun, apakah benar bahwa seseorang dapat menjadi baik dan bermoral tanpa keberadaan Allah? Jika pertanyaan ini ditanyakan kepada kekristenan, maka jawaban umumnya adalah tidak dapat. Manusia tidak dapat menjadi orang baik dan bermoral tanpa Allah. Hal ini dikarenakan objektivitas dan fondasi moral membutuhkan keberadaan Allah. Gagasan tersebut dapat terlihat pada teori perintah ilahi (divine command theory) yang menjadi salah satu teori moral atau etika Kristen. Di sisi lain, jika pertanyaan di atas ditanyakan kepada Paul Kurtz, seorang filsuf humanisme sekuler, maka jawabannya adalah manusia dapat menjadi orang baik dan bermoral tanpa Allah. Menurut Kurtz, “Morality and moral behavior do not depend on divine commandments.” Mirisnya, dewasa ini ada banyak orang yang setuju dengan pandangan Kurtz tersebut.6Persetujuan dari banyak orang ini tentu tidak dapat dilepaskan dari pengaruh tokoh-tokoh ateis yang mengkritik teori perintah ilahi dan juga berkembangnya teori moral ateisme dengan pendekatan humanisme (disebut juga teori moral ateisme-humanisme) di dalam beberapa dekade terakhir ini. Misalnya, Kurtz dengan pendekatan humanisme sekulernya dan Sam Harris, seorang ahli saraf (neuroscientist) ateis yang menegaskan bahwa sains dapat membantu manusia untuk mengetahui perbuatan moral sehingga ia dapat melakukannya dan menjadi bermoral tanpa membutuhkan keberadaan Allah. Melihat polemik di antara iman Kristen dan ateisme mengenai dibutuhkan atau tidaknya keberadaan Allah bagi objektivitas dan fondasi moral, maka melalui tulisan ini penulis akan membandingkan teori moral yang dianut oleh kedua kubu tersebut. Namun, penulis membatasi hanya akan mendeskripsikan teori moral ateisme-humanisme. Menurut hemat penulis, teori moral ateisme-humanisme bermasalah karena tidak dapat memberi alasan yang masuk akal dan koheren bagi semua orang untuk dapat menjadi orang yang baik dan bermoral tanpa Allah. Di sisi lain, teori perintah ilahi, yakni teori etika Kristen yang berpusat pada perintah Allah, dapat memberi alasan yang masuk akal dan koheren bagi semua orang untuk dapat menjadi orang yang baik tanpa Allah. Pertama, penulis akan mendeskripsikan apa itu teori moral ateisme-humanisme dan duduk perkaranya. Pembahasan kemudian dilanjutkan dengan pembelaan teori perintah ilahi terhadap masalah moral tersebut. Akhirnya, artikel ini akan ditutup dengan kesimpulan oleh penulis.
</description>
<pubDate>Fri, 01 Jan 2021 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/1059</guid>
<dc:date>2021-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Mikhael vs. Iblis Tinjauan terhadap Penggunaan Kutipan Kitab Bukan Kanon dalam Yudas 9 serta Implikasinya bagi Jemaat Masa Kini</title>
<link>https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/1058</link>
<description>Mikhael vs. Iblis Tinjauan terhadap Penggunaan Kutipan Kitab Bukan Kanon dalam Yudas 9 serta Implikasinya bagi Jemaat Masa Kini
Tampang, Natalia Kristin
Kitab Yudas merupakan bagian dari surat-surat umum Perjanjian Baru dengan keseluruhan kitab hanya berisi 25 ayat. Hal ini menjadikan Yudas sebagai salah satu kitab tersingkat dalam Perjanjian Baru. Di sisi lain, kitab Yudas memiliki banyak perdebatan mengenai otoritasnya. Beberapa ahli mempertanyakan otoritas dari kitab ini karena adanya permasalahan-permasalahan, seperti penulisan kitab Yudas yang banyak menggunakan referensi yang patut dipertanyakan, natur kitab yang penuh dengan kecaman dan polemik, dan sikap penulis yang menolak pengajaran yang bertentangan dengannya tetapi tidak memberikan argumen untuk menentang pengajaran mereka. Namun permasalahan yang paling menonjol adalah sumber pengutipan kitab Yudas yang berasal dari luar kitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Dua sumber yang dipakai penulis adalah kitab pseudepigrapha, yaitu the Assumption of Moses dan the Book of Enoch. Hal ini tentu menimbulkan pertanyaan karena gereja masa kini bahkan tidak memasukkan dua sumber tersebut ke dalam kanon Perjanjian Lama maupun Apokrifa. Pada akhirnya, gereja cenderung menghindari penggunaan kitab ini, baik dalam khotbah maupun dalam pengajaran-pengajarannya. Salah satu penggunaan kitab pseudepigrapha terlihat dalam ayat 9, “Tetapi penghulu malaikat, Mikhael, ketika dalam suatu perselisihan bertengkar dengan Iblis mengenai mayat Musa, tidak berani menghakimi Iblis itu dengan kata-kata hujatan, tetapi berkata: ‘Kiranya Tuhan menghardik engkau!’” Di dalamnya, Yudas menggabungkan dua sumber untuk membangun tulisannya. Pertentangan antara penghulu malaikat Mikhael dan Iblis diyakini dikutip dari kitab the Assumption of Moses atau the Testament of Moses.6 Kisah ini merupakan salah satu legenda Yahudi dan tidak termasuk dalam kanon. Namun, kalimat yang diucapkan oleh malaikat Mikhael pada ayat ini dikutip dari salah satu kitab kanon Perjanjian Lama, yaitu Zakharia 3:2. Ini tentu menarik karena di satu sisi, peristiwa yang dikutip dari penulis berasal dari kitab yang tidak diakui otoritasnya, tetapi di sisi lain, kalimat yang dipakai oleh malaikat Mikhael dikutip dari kitab yang diakui otoritasnya. Masalah-masalah ini menimbulkan pertanyaan mengenai otoritas kitab Yudas dan juga kutipan di luar kanon yang digunakan di dalamnya. Jika kitab Yudas diterima di dalam kanon Perjanjian baru, apakah ini artinya kitab-kitab di luar kanon berotoritas dan benar diinsipirasikan oleh Roh Kudus? Jika bukan, lalu bagaimana Yudas memahami sumber-sumber yang dipakainya? Apa alasannya memakai sumber-sumber di luar kanon? Khususnya, dalam Yudas 9, ia menggabungkan sumber kanon dan luar kanon. Bagaimana Yudas memahami penggabungan dua sumber ini? Penulis akan menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas dengan melihat konteks dan gaya penulisan kitab Yudas. Kedua hal ini tentu mempengaruhi bagaimana Yudas memahami penggunaan kitab di luar kanon pada waktu itu dan alasannya menggabungkan dua sumber yang berbeda otoritasnya. Dari kedua analisa ini, penulis akan menunjukkan bahwa pengutipan dari kitab luar kanon tidaklah memengaruhi otoritas kitab Yudas ataupun membuat kitab luar kanon harus dimasukkan ke dalam kanon Alkitab.
</description>
<pubDate>Fri, 01 Jan 2021 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/1058</guid>
<dc:date>2021-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</channel>
</rss>
